Brilio.net - Jauh sebelum kabar duka datang dari Papua Pegunungan, ASN korban penembakan KKB Papua Wili Mbuik, sempat mengabadikan sebuah percakapan sederhana bersama sang ayah. Keduanya terhubung lewat panggilan video dari tempat yang berbeda, Rote dan Papua, tetapi jarak seolah tak menghalangi kedekatan ayah dan anak tersebut.

Momen itu dibagikan Wili melalui akun TikTok pribadinya, @wilimbuik, pada 24 Juli 2026. Dalam video tersebut, Wili tampak berbicara dengan ayahnya yang sudah sepuh. Ada sisa air mata di mata keduanya, sementara Wili terlihat memegang tisu untuk menyeka air mata yang jatuh.

Hampir satu setengah bulan kemudian, Wili meninggal dunia setelah menjadi salah satu korban penembakan di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026).

Video call Wili dan ayahnya dipenuhi air mata

Wili Mbuik dan ayah © 2026

Wili Mbuik dan ayah
© 2026/TikTok/@wilimbuik

Dalam rekaman tersebut, Wili dan sang ayah terlihat saling berbicara melalui layar ponsel. Keduanya berada di tempat yang berjauhan. Sang ayah berada di Rote, Nusa Tenggara Timur, sedangkan Wili menjalani kehidupan dan pekerjaannya di Papua Pegunungan.

Percakapan mereka tidak terdengar secara utuh karena suara dalam video tertutup oleh lagu rohani. Namun, ekspresi keduanya memperlihatkan suasana haru ketika sang ayah menyampaikan pesan kepada putri bungsunya.

 

Wili beberapa kali tampak menahan tangis. Ia memegang tisu sambil menyeka air mata yang terlihat di wajahnya. Di sisi lain, mata sang ayah juga tampak berkaca-kaca saat berbicara dengan anak bungsunya tersebut.

Momen sederhana itu kemudian terasa berbeda setelah kabar kematian Wili datang.

Pesan ayah yang ditulis Wili dalam unggahan

Wili Mbuik dan ayah © 2026

Wili Mbuik dan ayah
© 2026/TikTok/@wilimbuik

Wili menyertakan pesan sang ayah dalam caption video tersebut. Ia menuliskan bagaimana ayahnya mengingatkan perjalanan yang sudah ditempuhnya sejak berangkat ke Papua hingga menerima SK CPNS.

“Seporsi berkat untuk bapakku sayangg..
Bapak bilang" beta suruh lu pi papua 2 bulan sekarang su Terima SK CPNS artinya akan mengabdi bertahun-tahun,Tetap Rendah hati di tanah orang."
siap bapakku sehat selalu😇🥰,” tulis mendiang Wili kala itu, dikutip brilio.net dari TikTok @wilimbuik, Jumat (11/9/2026).

Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana sang ayah memandang perjalanan Wili bukan sekadar sebagai kesempatan bekerja jauh dari rumah. Ada harapan agar putrinya tetap rendah hati dan menjalankan pengabdian dengan baik meski berada jauh dari keluarga.

Unggahan itu dibuat Wili setelah dirinya menerima SK sebagai CPNS. Ia sebelumnya telah berangkat ke Papua sejak 2023 dan kemudian mengikuti seleksi CPNS di wilayah tersebut.

Kini, pesan sang ayah tentang pengabdian dan tetap rendah hati itu menjadi salah satu kenangan yang tersisa dari hubungan keduanya.

Wili selalu ingat sang ayah meski jauh di Papua

Kedekatan Wili dengan ayahnya juga diceritakan oleh Selvi Mbuik, bibinya. Menurut Selvi, Wili merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan dikenal sangat memperhatikan keluarganya.

Jarak antara Rote dan Papua tidak membuat Wili melupakan sang ayah. Ia disebut rutin menghubungi ayahnya melalui video call, terutama ketika ingin menanyakan kabar.

"Anak itu terlalu sopan, tidak pernah kata kasar. Tiap kali gajian dia telepon bapaknya dan kirim kebutuhan bapaknya. Kirimi bapaknya uang untuk belanja apa yang bapaknya mau. Dia anak bungsu. Baik sekali. Mereka ada 5 lima bersaudara dan dia yang bungsu," ungkap Selvi dilansir dari Merdeka.com, Jumat (11/9/2026).

Bagi keluarga, perhatian Wili kepada ayahnya bukan sesuatu yang baru. Setiap kali menerima gaji, ia menyempatkan diri menghubungi sang ayah sekaligus mengirimkan uang untuk memenuhi kebutuhannya.

Sang ayah menjadi salah satu sosok yang tetap dekat dengan Wili selama ia menjalani kehidupan sebagai perantau di Papua.

Berangkat jauh untuk mengabdi

Wili Mbuik dan ayah © 2026

Wili Mbuik dan ayah
© 2026/TikTok/@wilimbuik

Wili mulai berada di Papua sejak 2023. Di sana, ia mengikuti seleksi CPNS hingga akhirnya menerima SK dan bekerja sebagai pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Sebagai anak muda yang bekerja jauh dari kampung halaman, perjalanan tersebut membuatnya harus menjalani keseharian tanpa selalu berada di dekat orang tua. Meski begitu, hubungan dengan sang ayah tetap dijaga melalui komunikasi dari kejauhan.

Pesan dalam unggahan Juli itu pun memperlihatkan bagaimana Wili memahami harapan ayahnya. Ia menyebut dirinya siap menjalani pengabdian di Papua setelah menerima SK CPNS.

Wili Mbuik dan ayah © 2026

Wili Mbuik dan ayah
© 2026/TikTok/@wilimbuik

Namun, perjalanan pengabdian tersebut terhenti setelah Wili menjadi korban penembakan di Kampung Muliama.

Keluarga sempat berharap Wili masih selamat

Wili Mbuik dan ayah © 2026

Wili Mbuik dan ayah
© 2026/TikTok/@wilimbuik

Setelah mendapat kabar Wili tertembak, keluarga sempat berharap nyawanya masih bisa diselamatkan. Mereka mendapat informasi bahwa Wili mengalami luka tembak di bagian kiri dada dan berada dalam kondisi kritis.

Selvi mengatakan keluarga langsung panik setelah menerima foto kondisi Wili. Mereka kemudian menghubungi keluarga yang berada di Papua dan berdoa agar Wili dapat bertahan.

“Kami sudah syok karena dikirimi foto kena tembakan di bagian kiri dada. Kami itu langsung telepon keluarga di situ. Kami di sini sudah histeris. Kami mohon Tuhan tolong, kami punya anak semoga dia selamat," cerita Selvi, dikutip dari Merdeka.com.

Namun, harapan itu berubah menjadi kabar duka.

"Tapi beberapa saaat kemudian, kabar datang bahwa Nona Wili sudah pergi selamanya," sambungnya.

Wili meninggal dunia pada usia 24 tahun. Ia menjadi salah satu dari tiga korban dalam insiden penembakan tersebut.

Jenazah Wili tiba di Bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (11/9/2026) pagi. Dari Kupang, jenazah selanjutnya akan dibawa menuju Rote untuk dimakamkan di kampung halaman.