Brilio.net - Seorang petugas keamanan atau satpam di kawasan objek vital Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengambang di perairan pada Jumat (24/7/2026). Korban bernama Sumarna (40) ditemukan di kawasan Tanggul Kayat dengan posisi tubuh telungkup dan kedua tangan terborgol ke belakang.

Sumarna diketahui bertugas piket malam di kawasan waduk sebelum kejadian. Sekitar pukul 03.00 WIB, ia dilaporkan tidak lagi dapat dihubungi oleh rekan-rekan kerjanya. Kondisi itu membuat kepala satuan pengamanan bersama rekan kerja korban melakukan pencarian di sejumlah titik kawasan waduk hingga akhirnya jenazah korban ditemukan sekitar pukul 11.00 WIB pada hari yang sama.

Korban pertama kali terlihat oleh sesama petugas keamanan yang tengah berada di sekitar lokasi. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada warga setempat sebelum diteruskan kepada aparat kepolisian.

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan menjelaskan proses penemuan jenazah tersebut.

"Korban pertama kali ditemukan oleh seorang satpam yang melihat tubuh korban tenggelam di perairan. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada warga setempat dan diteruskan kepada aparat kepolisian," kata Hendra dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2026), dilansir brilio.net dari merdeka.com, Senin (27/7/2026).

Ia menambahkan, saat proses evakuasi, petugas mendapati kondisi jasad korban dalam posisi tertentu.

"Saat dievakuasi, korban ditemukan dalam posisi telungkup di perairan. Petugas juga mendapati kedua tangan korban terborgol ke belakang," ujarnya.

Dugaan Sempat Tegur Pelaku Vandalisme Sebelum Kejadian

Polisi turut menelusuri aktivitas terakhir korban sebelum kehilangan kontak. Salah satu informasi yang didalami penyidik adalah dugaan bahwa Sumarna sempat menegur sekelompok orang yang melakukan aksi vandalisme atau coret-coret di area waduk.

Seorang warga bernama Warta menyebutkan bahwa aksi vandalisme itu terjadi pada Rabu (22/7/2026) malam, dan diduga pelaku yang sama kembali datang pada Kamis (23/7/2026) malam.

"Dia (Sumarna) melarang orang yang mau corat-coret (vandalisme). Itu wajar karena itu memang tugas dia menjaga area waduk," kata warga setempat, Warta, kepada wartawan, Senin (27/7/2026), dikutip dari merdeka.com

Warta juga menjelaskan proses pencarian korban sejak dinyatakan hilang kontak oleh atasannya.

"Kepala satpam bilang Sumarna enggak ada dari jam tiga dini hari. Setelah dicari bareng teman-teman dan warga, ketemu jam 11 siang dalam air di pinggir danau," ujar dia.

Sebuah video berisi aksi vandalisme di kawasan jalan tanggul turut beredar di media sosial dan sempat disebut sebagai status terakhir korban. Rekaman itu memperlihatkan sejumlah coretan pada fasilitas umum disertai suara seorang pria yang mengecam tindakan tersebut. Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara meluruskan informasi itu.

"Itu bukan status korban, melainkan milik rekannya," kata Made.

Polisi Periksa Belasan Saksi dan Amankan Barang Bukti

Usai menerima laporan penemuan jenazah, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, serta mengamankan barang bukti. Jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk pemeriksaan awal, sebelum dipindahkan ke Rumah Sakit Sartika Asih, Bandung, guna menjalani autopsi pada Jumat malam sekitar pukul 18.00 WIB.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara membenarkan bahwa kondisi tangan korban memang dalam keadaan terborgol saat ditemukan. Ia menyatakan penyelidikan masih terus berjalan, mulai dari pengumpulan barang bukti hingga pemeriksaan sejumlah saksi, guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.

Hingga Minggu (26/7/2026), sebanyak 12 orang telah dimintai keterangan, terdiri dari warga sekitar dan rekan kerja korban. Made menyampaikan bahwa proses penyelidikan dan penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap peristiwa yang dialami korban. Penyidik juga telah mengamankan ponsel milik korban serta memeriksa rekaman CCTV di kawasan Perum Jasa Tirta II, tempat Sumarna bertugas, meski hasil pemeriksaannya masih terus didalami.

Terkait dugaan keterlibatan kelompok tertentu yang ramai dibicarakan di media sosial, polisi menegaskan belum menemukan bukti pendukung yang mengarah ke keterkaitan dengan kelompok mana pun.

Keluarga Minta Kasus Diusut Tuntas

Kondisi tangan korban yang terborgol ke belakang dinilai janggal oleh pihak keluarga. Paman korban, Ocid, meminta kepolisian mengusut tuntas kasus kematian Sumarna sesuai prosedur hukum yang berlaku. Ia mengaku menerima kabar penemuan korban menjelang Jumat, dan menganggap posisi tangan yang terborgol saat korban ditemukan tewas di air sebagai kejanggalan yang perlu diusut secara hukum.

Pihak keluarga disebut telah menyetujui proses autopsi terhadap jenazah korban agar penyebab kematian dapat diketahui secara pasti. Ocid menjelaskan bahwa dirinya telah menghubungi kakak, adik, serta istri korban, dan seluruh pihak keluarga telah memberikan persetujuan atas pelaksanaan autopsi tersebut, mengingat hingga saat itu keluarga belum mengetahui penyebab pasti kematian Sumarna.

Kombes Hendra Rochmawan menegaskan bahwa kasus ini ditangani langsung oleh Polres Purwakarta. Penyidik disebutkan masih melakukan serangkaian langkah penyelidikan, mulai dari memeriksa saksi-saksi, mengumpulkan barang bukti, menganalisis rekaman CCTV, hingga menunggu hasil lengkap autopsi. Ia turut mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian maupun pihak yang diduga terlibat, dan meminta publik memberikan kepercayaan kepada penyidik untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Gubernur Jabar Tinjau Langsung Polres Purwakarta

satpam waduk jatiluhur © 2026

satpam waduk jatiluhur
© 2026 Instagram/@dedimulyadi71

Perkembangan kasus ini turut mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang mendatangi langsung Polres Purwakarta untuk menanyakan progres penanganan kasus tersebut. Dalam kunjungan itu, pihak kepolisian melaporkan bahwa jumlah saksi yang diperiksa telah bertambah menjadi 15 orang hingga Senin (27/7/2026), dan rekaman CCTV di luar area waduk telah diamankan sebagai bahan penyelidikan.

"Baik, Pak Gubernur yang terhormat. Kami izin menyampaikan untuk perkembangan kasus yang sudah kami dalami. Sudah 15 saksi yang kami periksa sementara. CCTV juga yang di luar seputaran waduk sudah kami amankan. Kemudian ada beberapa hipotesa atau kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terhadap korban, baik itu permasalahan pribadi maupun keluarga sudah kami dalami. Terkait dari 15 saksi sudah kami dalami semua untuk tindakan lebih lanjut,” jelas AKP I Made Purwantara.

Polisi menyampaikan bahwa sejumlah kemungkinan masih didalami, termasuk aspek kehidupan pribadi dan keluarga korban. Namun penyidik belum menyampaikan kesimpulan maupun kaitannya dengan penyebab kematian.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Dedi Mulyadi turut menyoroti minimnya sistem pengawasan di kawasan Bendungan Jatiluhur yang berstatus sebagai objek vital nasional. Ia mempertanyakan ketiadaan kamera pengawas (CCTV) di sekitar area tanggul, mengingat bendungan tersebut menjamin pasokan air dan keselamatan warga di wilayah Bekasi, Karawang, hingga Jakarta.

Pihak kepolisian, termasuk AKP I Made Purwantara, yang mendampingi menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi salah satu kendala dalam penyelidikan, karena CCTV di seputaran lokasi kejadian belum ditemukan, sementara pencarian rekaman masih difokuskan pada area jalan raya dan gerbang utama.

Gubernur pun meminta agar jajaran Perum Jasa Tirta II (PJT II) selaku pengelola waduk segera memperbaiki sistem pengamanan, termasuk membangun ruang pemantauan terpusat atau command center yang beroperasi dengan sistem piket 24 jam untuk mengawasi seluruh kawasan objek vital tersebut.

“Oke, ini titik lemah buat jajaran PJT II. Ini bendungan yang menjamin keselamatan warga di Bekasi, Karawang, sampai Jakarta. Masa objek vital nasional enggak ada CCTV-nya? Bahkan harus ada command center-nya untuk bisa memantau seluruh wilayah dimonitor dalam satu ruangan dan piket 24 jam. Segera perbaiki, ini jagain objek vital nasional ya,” ujar Dedi dikutip dari Instagram @dedimulyadi71.

Hingga berita ini disusun, polisi masih menunggu hasil lengkap autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban serta ada atau tidaknya unsur tindak pidana. Penyidik juga terus memeriksa saksi dan menganalisis barang bukti yang telah diamankan.