Brilio.net - Nama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, kini tengah menjadi perhatian publik. Hal ini terjadi menyusul insiden kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Bobby terlihat hadir secara langsung di lokasi kejadian untuk memantau proses evakuasi. Foto-fotonya yang sedang terduduk di dekat reruntuhan lokomotif sempat viral di media sosial. Berdasarkan informasi yang beredar, ia dilaporkan tidak pulang selama dua hari guna memastikan proses penanganan korban dan pembersihan jalur berjalan dengan lancar.

Profil Bobby Rasyidin © 2026

foto: Istimewa

Komitmen Dukungan bagi Keluarga Korban

Dalam aksi kemanusiaannya, Bobby Rasyidin mengunjungi kediaman salah satu korban meninggal dunia, Nurlaela (37), seorang guru PNS di Cikarang Timur. Dalam kunjungan tersebut, Bobby berbincang dengan anak korban yang masih duduk di bangku kelas 6 SD dan menawarkan bantuan pendidikan secara personal.

"Udah nanti ini ya, sekolah kamu aku yang bayarin. Mau enggak?" tanya Bobby kepada anak tersebut sebagaimana terlihat dalam rekaman video yang beredar, dan diunggah kabarnya lewat Instagram @keretaapikita pada Jumat (1/5/2026).

Profil Bobby Rasyidin © 2026

foto: Instagram/@keretaapikita

Selain bantuan pribadi, PT KAI dan PT KCI juga telah memberikan kompensasi resmi kepada keluarga korban. Pihak KAI menegaskan akan terus mendampingi keluarga melalui berbagai layanan, mulai dari pemulihan trauma (trauma healing) hingga pembukaan posko informasi yang beroperasi hingga 11 Mei 2026.

Selain itu, hingga saat ini, PT KAI berkomitmen untuk melakukan investigasi mendalam bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan memastikan langkah preventif di masa depan.

Desakan Evaluasi dan Pengunduran Diri

Di samping dukungan warganet atas sikap empatinya, Bobby juga menerima tekanan dari kalangan politik. Firnando Ganinduto, yang merupakan Anggota Komisi VI DPR RI, meminta agar sistem keselamatan perkeretaapian nasional dievaluasi secara total. Menurut Firnando, tragedi tersebut mengindikasikan adanya kelemahan sistemik dalam pengintegrasian teknologi pendeteksi kereta.

Dalam keterangannya pada Selasa (28/4/2026) yang dikutip melalui brilio.net pada Sabtu (2/5/2026), Firnando menjelaskan bahwa pada sistem perkeretaapian modern saat ini, teknologi seperti sistem proteksi kereta, persinyalan otomatis, hingga mekanisme fail-safe seharusnya mampu mengantisipasi tabrakan meski terjadi kesalahan manusia.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan tanggung jawab jajaran manajemen tertinggi. Firnando mempertanyakan efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keamanan, serta standar operasional yang dijalankan, sehingga pihaknya mendesak agar Direktur Utama KAI segera menanggalkan jabatannya.

Profil dan Rekam Jejak Bobby Rasyidin

Bobby Rasyidin resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT KAI pada 12 Agustus 2025, menggantikan Didiek Hartantyo. Sebelum memimpin operator kereta api nasional, ia memiliki karier panjang di sektor teknologi dan industri strategis. Berikut informasinya dihimpun brilio.net dari laman salamganesha.com dan beberapa sumber lain.

Latar Belakang Pendidikan:

- 1996: Sarjana Teknik Telekomunikasi, Institut Teknologi Bandung (ITB).
- 1999: Master of Psychology Management, Naperville, Amerika Serikat.
- 2000: MBA, University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.

Perjalanan Karier:

- 2025 – Sekarang: Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).
- 2021 – 2025: Direktur Utama PT Len Industri (Persero) – Holding Industri Pertahanan.
- 2020 : Komisaris Independen PT GMF Aero Asia Tbk.
- 2019 – 2021: Komisaris Utama PT Indonesian Cloud.
- 2016 – 2021: Komisaris Utama PT Akses Prima Indonesia.
- 2016 – 2019: Komisaris Utama PT Len Telekomunikasi Indonesia.
- 2012 – 2015: Direktur Utama PT Alcatel Lucent Indonesia (Menjadi pimpinan termuda di usia 38 tahun).