Mitos micin bikin otak jadi bodoh ternyata berawal dari selembar surat komplain, ini faktanya

Mitos micin bikin otak jadi bodoh ternyata berawal dari selembar surat komplain, ini faktanya

Brilio.net - Urusan micin memang selalu menarik buat dibahas. Anggapan kalau penyedap rasa satu ini bisa bikin otak jadi lambat rasanya masih ada saja. Padahal kalau ditelisik lewat sains, tuduhan itu sama sekali tidak terbukti menyebabkan penurunan kecerdasan, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Bahan yang sering bikin heboh ini sebenarnya bernama monosodium glutamate (MSG), alias garam natrium dari asam amino L-glutamat. Micin terbuat dari apakah? Proses bikinnya ternyata alami, yaitu lewat fermentasi tetesan tebu. Cara ini mirip sekali dengan proses pembuatan tempe, kecap, atau yogurt. Sejatinya MSG adalah kristal murni 99 persen yang higienis. Zat glutamat ini juga bukan barang asing bagi tubuh karena punya fungsi membantu sel imun, fungsi otak, sampai mengatur rasa kenyang. Menariknya lagi, glutamat juga ada secara alami di tomat, jamur, keju, dan rumput laut, bahkan di dalam ASI. Jadi, keberadaan zat ini tidak cuma ditemukan pada produk penyedap kemasan saja.

Benarkah Micin Bikin Bodoh?

Mitos micin bikin otak jadi bodoh ternyata berawal dari selembar surat komplain, ini faktanya

Foto: Shutterstock.com

Cerita soal micin bikin bodoh ini sebenarnya punya akar sejarah yang unik. Semua bermula dari sebuah surat pada tahun 1968 di New England Journal of Medicine oleh Dr. Robert Ho Man Kwok. Saat itu, ada keluhan gejala pusing setelah makan di restoran Cina. Dari sana muncullah istilah Chinese Restaurant Syndrome yang akhirnya memicu stigma tidak berdasar kalau micin merusak otak.

Padahal kalau melihat fakta ilmiah, ceritanya jauh berbeda. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US FDA) bahkan sudah menyatakan MSG aman atau masuk kategori Generally Recognized As Safe (GRAS) sejak tahun 1958. Waktu ilmuwan mencoba melakukan penelitian pada orang-orang yang mengaku sensitif terhadap MSG, reaksi sensitivitas itu malah tidak konsisten muncul, baik saat diberi MSG maupun plasebo.

Riset dari Minoru Kouzuki dan tim sempat menguji efek MSG pada kemampuan berpikir pasien demensia di rumah sakit dan panti jompo. Sebanyak 159 pasien dilibatkan. Ada kelompok yang rutin mengonsumsi MSG tiga kali sehari dengan dosis 0,9 gram, dan ada kelompok kontrol yang mendapat garam dapur seberat 0,26 gram. Proses ini berjalan selama 12 minggu, lalu diikuti 4 minggu masa pemantauan tanpa konsumsi zat tadi.

Pemeriksaan fisik, darah, kuesioner perilaku, serta tes otak dilakukan sebelum dan sesudah masa pemantauan. Hasil studi akhirnya menyimpulkan bahwa konsumsi MSG secara berkelanjutan berpengaruh pada fungsi kognitif. Peningkatan fungsi otak yang jauh lebih besar bahkan dialami oleh pasien yang selera makannya membaik.

Terlebih, Nutrisionis Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes juga menjelaskan kalau glutamat dalam MSG itu sama persis dengan yang ada di sayuran, buah, dan daging. Jadi tidak ada alasan untuk khawatir selama porsinya pas. Penggunaan MSG bahkan bisa membantu mengurangi porsi garam untuk memberikan rasa lezat pada makanan.

Batas Aman Konsumsi Micin atau MSG

Mitos micin bikin otak jadi bodoh ternyata berawal dari selembar surat komplain, ini faktanya

Foto: Shutterstock.com

Meskipun aman dan diakui lembaga internasional seperti WHO atau FAO, bukan berarti bisa dikonsumsi tanpa kendali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas aman konsumsi harian MSG adalah 0 sampai 120 mg per kilogram berat badan. Sementara untuk orang dewasa, Kementerian Kesehatan menyarankan batas maksimal konsumsi sekitar 5 sampai 6 gram atau setara dengan 1 setengah sendok teh per hari.

Soal legalitas di Indonesia, posisinya sangat kuat. Ada Peraturan Kepala BPOM No. 11 Tahun 2019 yang resmi mengizinkan penggunaannya, ditambah Sertifikat Halal MUI nomor 07870398 Tahun 2010. Landasan hukum ini bahkan sudah didukung sejak lama oleh SK Kementerian Kesehatan (No: 235/Menkes/PER/DL/79) dan SK Kementerian Agama (No: B VI/02/2444/1976).

Lalu, bagaimana kalau dikonsumsi berlebihan? Efeknya sebenarnya mirip dengan kalau kebanyakan makan garam dapur atau penyedap rasa lain. Keduanya sama-sama mengandung unsur natrium yang bisa memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi jika berlebihan.

Namun kalau dihitung secara matematis, kandungan natrium di micin justru lebih sedikit, cuma sekitar sepertiga dari jumlah natrium pada berat yang sama dengan garam dapur. Memanfaatkan MSG malah bisa memotong asupan garam sampai 30 hingga 40 persen tanpa membuat masakan menjadi hambar, sebuah langkah bagus buat menjaga kesehatan jantung dan ginjal jangka panjang.

Kalau sesekali muncul keluhan ringan seperti pusing atau rasa kurang nyaman setelah konsumsi berlebih, tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Kondisi tersebut umumnya cuma bersifat sementara. Langkah penanganan sederhana yang bisa diambil adalah menghentikan konsumsi untuk sementara waktu, minum air putih yang cukup, dan kembali mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

(brl/lak)

Video

Selengkapnya
  • Jalan Makan Shiki, resto sukiyaki bergaya kansai daging disajikan dengan permen kapas

    Jalan Makan Shiki, resto sukiyaki bergaya kansai daging disajikan dengan permen kapas

  • Jalan Makan Kari Lam, jualan sejak 1973 membawa rasa nostalgia

    Jalan Makan Kari Lam, jualan sejak 1973 membawa rasa nostalgia

  • Jalan Makan Sroto Eling-Eling, gurihnya kuah dan melimpahnya daging kuliner Banyumas

    Jalan Makan Sroto Eling-Eling, gurihnya kuah dan melimpahnya daging kuliner Banyumas