Brilio.net - Sebuah rekaman video yang diunggah di platform media sosial memperlihatkan momen penuh duka dari seorang wanita hamil yang sedang menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG). Kedatangan awal yang dipenuhi harapan untuk memantau tumbuh kembang sang calon buah hati berubah seketika menjadi suasana penuh kesedihan setelah tim medis menyampaikan kondisi medis yang dialami janin.

Kisah ini dibagikan oleh akun TikTok @dokterbudiobgyn80 dan langsung memicu simpati mendalam dari para pengguna internet. Rekaman tersebut menjadi pengingat bagi publik mengenai dinamika masa kehamilan yang tidak selalu berjalan mulus, sekaligus menekankan pentingnya peran pendampingan emosional bagi ibu yang menghadapi kehilangan.

Detik-Detik Penyampaian Kabar Duka di Ruang USG

janin meninggal dalam kandungan © 2026

janin meninggal dalam kandungan
© 2026 /TikTok/@dokterbudiobgyn80

Dalam video yang diunggah sang dokter pada Sabtu (4/7/2026) tersebut, pemeriksaan awalnya berjalan biasa ketika dokter menanyakan posisi kamera perekam kepada perawat yang mengasisteni dan pendamping ibu hamil. Bahkan dokter @dokterbudiobgyn80 sempat bercanda soal angle pengambilan video pada perawat.

Namun, suasana hangat tersebut langsung berubah drastis saat dokter mulai mengamati layar monitor. Sambil menunjuk gambar kepala janin, dokter berkata, “Nah, ini... Ini... kepala.”

Sebelum menyampaikan diagnosis fatal, dokter meminta izin dengan sangat hati-hati, "Aduh... Saya boleh ngomong apa adanya?"

Dokter mengulangi, "Boleh ngomong apa adanya?" yang kemudian diizinkan oleh pasien, "Boleh."

Diagnosis Medis Terhentinya Detak Jantung Janin

janin meninggal dalam kandungan © 2026

janin meninggal dalam kandungan
© 2026 /TikTok/@dokterbudiobgyn80

Dokter kemudian menanyakan keberadaan pasangan pasien, "Suaminya mana?" yang ternyata tidak bisa mendampingi. Justru keponakan pasien ibu hamil tersebut yang mendampingi. Setelahnya, kabar berat tersebut disampaikan secara langsung.

Dokter berucap, "Mohon maaf ya, ini janinnya barusan meninggal."

Pernyataan tersebut sempat membuat semua orang yang ada di ruangan terkejut. Ekspresi dokter pun berubah simpati setelah sebelumnya sempat tersenyum bercanda. Pasien juga syok tidak percaya.

Lebih lanjut dokter menerangkan kondisi fisik janin melalui indikator USG. Dijelaskan bagian kepala maupun anggota tubuh yang lain. Ada bagian tulang yang tumpang tindih menurut penjelasan dokter tersebut.

Dokter juga menjelaskan, "Terus bagian dada, ini... Nah, ini di sini... Ini enggak ada gerakan jantung. Ini kita pakai color doppler (teknik ultrasound (USG) non-invasif yang mengubah gelombang suara menjadi gambar berwarna) aja. Maaf ya. Iya, iya betul."

Melalui tampilan monitor yang tidak menunjukkan visual warna aktif pada organ jantung, dokter menegaskan, "Ini... biar jelas semua dulu ya. Itu daerah jantungnya di sini. Ini daerah jantung, ini tidak ada warna. Berarti dia tidak berdenyut, ya."

Langkah Penanganan Medis Selanjutnya

janin meninggal dalam kandungan © 2026

janin meninggal dalam kandungan
© 2026 /TikTok/@dokterbudiobgyn80

Setelah memastikan kondisi janin yang tidak lagi bernyawa, dokter memberikan penguatan moral kepada pasien. Dokter menyampaikan rasa simpati, "Jadi anaknya, mohon maaf, ini meninggal” serta menambahkan perkiraan waktu kejadian.

”Kayaknya belum lama meninggalnya, ya. Sedih, ya. Oke,” ujar sang dokter sambil menenangkan pasien yang mulai menangis.

“Sabar, ya. Memang belum rezekinya, ya,” lanjut sang dokter.

Terkait tindakan klinis berikutnya, dokter @dokterbudiobgyn80 menegaskan, "Ini (janin) harus dikeluarkan.”

Mengenai penyebab pasti dari berhentinya perkembangan janin tersebut, dokter menjelaskan bahwa diperlukan evaluasi lebih mendalam karena gejalanya bisa dipicu oleh beragam aspek medis.

Dokter memaparkan, “Kan ini belum lama atau mulai baru-baru, ya? Nah, penyebab aslinya saya enggak tahu. Banyak faktor. Misalkan hipertensi, atau mungkin ada kelainan tertentu, saya enggak bisa memastikan."

Karena kondisi fisik pasien dinilai stabil dan tidak berada dalam situasi darurat medis, dokter memutuskan bahwa proses induksi atau persalinan bisa dijadwalkan secara terencana. Dokter juga memberikan panduan mengenai aspek administratif dan penjadwalan rawat inap di rumah sakit.

Di akhir sesi pemeriksaan, dokter meminta pendamping yang merupakan keluarga pasien untuk membantu memberikan dukungan emosional. Dokter bertanya, "Nanti ngomong sama suami dulu. Mbak apanya? Kamu apanya?”. Setelah diketahui keponakan pasien, dokter memberikan arahan, "Oh, keponakan. Nanti bantu ditenangkan ya."